Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang mencari buku di Gramedia, saya tertarik dengan sebuah buku berwarna merah judulnya The Air Asia Story, Kisah Maskapai tersukses di Asia.  Buku ini terjemahan dari “The Air Asia Story” karya Sen Ze dan Jayne Ng.  Sejak lama saya sudah penasaran dengan maskapai ini, bagaimana cara mereka menekan harga tiket sehingga lebih murah dibanding pesaingnya.  Jadi saya putuskan untuk membeli buku ini.  Setelah saya membacanya, ternyata banyak juga yang saya bisa ambil dari strategi bisnis yang dianutnya, juga bagaimana ia mampu menyelesaikan segala kendala dan rintangan yang dihadapinya.

Berikut ini beberapa cara bagaimana maskapai murah ini dapat menekan biaya tiketnya, yang saya peroleh dari buku ini :

  • Meniadakan makanan, tetapi jika dibutuhkan dapat membeli di pesawat
  • Mengatur jadual dengan cermat sehingga mereka dapat menggunakan awak kabin yang sama untuk penerbangan balik kembali ke tujuan pemberangkatan dengan membawa penumpang baru.  Ini menurunkan biaya gaji awak kabin.
  • Tidak ada biaya akomodasi awak kabin karena mereka kembali ke rumah di hari yang sama, kasarannya sama dengan jam kerja kantor.
  • Pelanggan didorong untuk membeli tiket pada internet untuk menghindari kebutuhan akan konter tiket dan staf tiket sehingga menghemat sewa tempat dan gaji staf.  Tidak ada tiket yang dikeluarkan, hanya kode tiket dan rincian penerbangan yang dapat dicetak sendiri oleh pelanggan.
  • Air Asia membayar bahan bakar di depan untuk menjaga harga terendah dan meminimalkan resiko kenaikan harga bahan bakar.

Masuk akal ya, tentu saja masih banyak yang lainnya dan dapat dibaca selengkapnya dalam buku ini.

Dalam buku ini kita juga dapat mengetahui kisah awal pendirian Air Asia,  persaingannya dengan Malaysia Airlines, berusaha untuk mendapatkan hak mendarat di Singapura, dan kendala-kendala bisnis lainnya yang mereka hadapi.  Buku ini sangat menarik, dan saya rasa banyak-hal baik yang dapat kita ambil dari kisah bisnis Air Asia ini.

Iklan